[Curhat Pelajar] Chapter 1 : What Our Education Should Be

Rahmat Wibowo
4 min readAug 15, 2023

--

Halo temen-temen semua, kenalin nama gua Rahmat Wibowo. Seorang mahasiswa yang dianggap sukses namun, hidupnya kosong. Di seri Curhat Pelajar ini gua bakal ngajarin pelajaran hidup ke kalian tentang derita pelajar dari perspektif orang yang kuper dan hidupnya kosong. So…. Here it is.

As a background, gua bisa dianggap sukses karena as a student I already become a role model within our success criteria.
✅ Jadi Mahasiswa Terbaik ITB di tahun 2020.

✅ IPK diatas 3.9

✅ Dah secured a job di salah satu Fortune 500 companies di dunia sebelum lulus

Meskipun banyak achievement dan nikmat yang gua dapat tapi hati gua kosong dan kurang bersyukur dan setelah gua introspeksi diri, ini adalah poin-poin yang dapat dibenahi dari sistem pendidikan di Indonesia.

  1. Anak masuk sebelum masuk SD harus dipersiapkan untuk dapat bergaul.

Saat kita sekolah terutama SD, itu adalah saat-saat dimana kita di introduce untuk bertemu orang diluar lingkungan rumah. Seharusnya, saat kita masuk kelas 1 SD pendidikan dari orang tua harusnya fokus untuk mempersiapkan kita untuk bergaul. Seperti diajarkan hal-hal berikut:

  • Diajak bermain, ajaklah anak untuk dapat bermain bola, bermain games, atau hal lain. Salah satu kunci untuk dapat bergaul adalah mempunyai hal yang sama untuk main bareng. Jika anak tidak relate dengan temannya dia akan minder dan tidak siap berteman.
  • Diajak caranya kenalan dan buka percakapan, anak harus diajarin cara berteman seperti apa kamu harus begini, begini begini buat dapat teman

2. Pendidikan harus menekankan kesetaraan

Kita tahu bahwa tujuan kita menerapkan penggunaan seragam adalah untuk membuat semua orang setara. Namun, kesetaraan bukan dalam hal pakaian, tapi semua hal. Orang tua yang bisa dibilang memaksakan pendidikan anaknya pokoknya harus sekolah di sekolah yang terbaik. Namun, pergaulannya jomplang nanti akan membuat anak minder. Yang gua rasakan adalah orang tua w menyekolahkan ke swasta dimana pas masih SD sudah ada yang diantar jemput dengan mobil, hp nya iphone padahal 2007 sd kelas 1 itu baru release itu iphone dan dianterin bekal sama asisten tiap hari sehingga

Sekolah bagus-bagus, mahal-mahal selama 6 tahun SD dari pagi sampai malam bukannya dapet ilmu malah dapetnya minder dan merasa kurang dari yang lain

Apa sih contoh pendidikan yang setara?

Contoh pendidikan yang setara adalah ketika pelajar ada di lingkungan yang semua setara. Contohnya,

  • Tidak boleh menggunakan HP
  • Menggunakan seragam setara dari sepatu hingga tas yang digunakan, bahkan IIRC jepang aja tas juga punya template
  • Penggunaan bis sekolah untuk menyamaratakan, tidak ada lagi yang jalan kaki sendiri, dianter pakai motor, naik angkot, naik ojek, dan antar jemput mobil pribadi. Dianter orang tua dan ada yang sendirian

Anak saat masuk sekolah dan baru di introduce ke dunia luar jangan langsung dikasih beban kesenjangan sosial.

Biarkan dia tambah dewasa jangan sampai dia minder hingga umur dan pikirannya cukup dewasa untuk menerima itu semua.

3. Mendidik bukan menyuruh

Banyak orang tua yang menyuruh anaknya bukan mendidik dan mengarahkan.

Dek kamu kok gk kenalan kenalan sama temen mu, kenalan dong?

Itu namanya menyuruh, begini yang namanya mendidik.

Dek, kamu tolong kenalan ya sama dia. Stepnya gini kamu buka dengan bla-bla-bla terus ajak main bla-bla-bla. Kalo kamu gk bisa sini ayah bantu

4. Pendidikan dini untuk menamkan mindset bukan untuk menjadi habit

Kita dibiasakan untuk tadarus di awal hari, sholat di masjid. Tapi itu cuma habit. Banyak case setelah orang kuliah semua habit itu ditinggal yang tadinya alim jadi tersesat, pas selesai sekolah rambut langsung dicat, sholat dilalaikan. Jika value atau nilai-nilainya gk tertanamkan. Ajarin juga caranya naik kendaraan umum, kayak ada hari dedicated semua harus ke sekolah naik kendaraan umum. Banyak juga yang gk bisa naik kereta, transjakarta karena emang gk diajarin caranya naik kendaraan umum.

5. Kebutuhan manusia bukan hanya akademik

Di sekolah dan lingkungan mindsetnya adalah pokoknya kamu sekolah yang pinter ranking satu dan masuk sekolah favorit, masuk ptn. Bro, manusia itu juga butuh yang namanya kebutuhan sosial dan ruhani. Kita harus bisa bergaul manusia makhluk sosial kalo gk bersosialisasi nanti jadinya robot bukan manusia dan itu bukan qodratnya.

6. Sekolah untuk mengetahui dan memaksimalkan potensi diri bukan memaksimalkan nilai rapor

Banyak anak yang bakatnya bukan belajar, tapi sekolah seakan akan menyamaratakan semua anak bakatnya belajar. Ada yang bakatnya public speaking, bakatnya jualan. Mereka terkekang karena bukannya ngelakuin apa yang mereka senangi dan bisa malah ngikutin yang lainnya.

7. Sekolah mengedepankan empaty, diversity, and inclusion

Sekolah harusnya mengajarkan caranya berempati, gimana caranya agar kita bisa memahami orang lain, bukan untuk menjadi pribadi yang individualis dan acuh. Ada banyak kasus dimana anak sekolah stress dan kekurangan bukannya dibantu malah di jauhi. Sekolah harusnya mengajarkan bahwa tipe-tipe orang itu berbeda ada yang namanya personality test seberti MBTI, DISC gunakanlah itu dan jelaskan bahwa gk semua orang sama orang itu beda beda jangan disamakan

8. Sekolah untuk menambah wawasan bukan untuk membatasi diri

Banyak guru yang mengajarkannya saklek kalo ngerjain ini caranya begini ya, kalo caranya beda disalahkan. Seharusnya kalo caranya beda berarti ini anak think out of the box. Dikaji caranya bener gk atau itu cuma keberuntungan saja hasilnya benar padahal caranya salah.

Sebenernya masih banyak yang mau disampein tapi entah kenapa pas nulis mentok haha. Buat selanjutnya gua bakal bahas tentang curhatan fresh graduate. So… stay tune haha.. 😁😁😁😁😁😁. Buat yang mau tuker pikiran dan ada yang mau ditambahkan silahkan comment nanti article ini bisa diupdate berkala hehe……

Change Log:

15 Aug 2023 — Initial release

Author:

Rahmat Wibowo

Ex-Associate Solutions Architect @AWS
rahmat.wibowo21@gmail.com | linkedin.com/in/rahmatwi

--

--